PPM, Jakarta – Listrik merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari menyalakan lampu, mengisi daya ponsel, hingga menggunakan berbagai peralatan rumah tangga, semuanya membutuhkan listrik. Namun, di balik manfaatnya, listrik juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah bahaya tersetrum. Tersetrum terjadi ketika arus listrik mengalir melalui tubuh seseorang. Kondisi ini dapat menimbulkan efek yang berbeda-beda, mulai dari sensasi kesemutan hingga cedera serius, bergantung pada besar arus, jalur alirannya melalui tubuh, dan lamanya kontak dengan sumber listrik. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi kabel listrik dan instalasi yang digunakan. Kabel yang rusak atau penggunaan yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko kecelakaan listrik. Oleh karena itu, memahami penyebab tersetrum dan cara mencegahnya menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan di rumah maupun tempat kerja.

Mengapa Seseorang Bisa Tersetrum?

Seseorang dapat tersetrum ketika tubuh bersentuhan dengan bagian yang bertegangan listrik dan menjadi jalur bagi arus untuk mengalir. Hal ini dapat terjadi, misalnya, ketika seseorang menyentuh kabel yang terkelupas atau peralatan listrik yang mengalami kerusakan.

Ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko tersetrum, di antaranya:

  • Kabel listrik terkelupas atau rusak. Lapisan isolasi kabel berfungsi melindungi penghantar listrik agar tidak bersentuhan langsung dengan manusia atau benda lain. Jika lapisan ini rusak, risiko kontak dengan bagian bertegangan dapat meningkat.
  • Menggunakan peralatan listrik dengan tangan basah. Air dan kondisi kulit yang basah dapat mengurangi hambatan listrik pada tubuh sehingga meningkatkan risiko tersetrum.
  • Instalasi listrik yang tidak sesuai. Sambungan kabel yang tidak tepat, komponen yang rusak, atau instalasi yang tidak memenuhi persyaratan keselamatan dapat menimbulkan bahaya listrik.
  • Menyentuh bagian bertegangan tanpa perlindungan yang sesuai. Kontak langsung dengan penghantar atau komponen listrik yang aktif dapat menyebabkan arus mengalir melalui tubuh.

Risiko tersebut menunjukkan bahwa kondisi kabel, peralatan, dan instalasi listrik perlu diperhatikan secara berkala. Kerusakan yang terlihat kecil sekalipun tidak boleh diabaikan karena dapat menimbulkan bahaya.

Cara Mencegah Bahaya Tersetrum Akibat Kabel Listrik

Pencegahan tersetrum dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam menggunakan listrik. Selain memperhatikan kondisi kabel, pengguna juga perlu memastikan bahwa instalasi listrik dilengkapi dengan perlindungan yang sesuai.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Periksa kondisi kabel secara berkala. Pastikan tidak ada lapisan kabel yang terkelupas, retak, terjepit, atau kerusakan lainnya. Kabel yang rusak sebaiknya segera ditangani oleh tenaga listrik yang kompeten.
  • Hindari menggunakan peralatan listrik saat tangan basah. Pastikan tangan dan area sekitar dalam kondisi kering sebelum mengoperasikan peralatan listrik.
  • Jauhkan kabel dari air dan sumber panas. Penempatan kabel yang tepat dapat membantu mengurangi risiko kerusakan isolasi dan bahaya listrik.
  • Gunakan kabel sesuai kebutuhan. Pemilihan kabel perlu mempertimbangkan ukuran penghantar, kapasitas arus, jenis isolasi, serta kondisi lingkungan tempat kabel digunakan.
  • Pastikan sistem pengaman listrik berfungsi. Penggunaan MCB, perangkat proteksi arus bocor seperti RCD atau ELCB, serta sistem pembumian yang sesuai dapat membantu mengurangi risiko kecelakaan listrik. Perangkat tersebut memiliki fungsi berbeda dan perlu dipilih serta dipasang dengan benar.

Jika seseorang sedang tersetrum, jangan langsung menyentuh tubuhnya. Putuskan sumber listrik terlebih dahulu jika aman dilakukan, atau minta bantuan petugas darurat. Setelah korban terlepas dari sumber listrik, segera hubungi layanan darurat dan lakukan pertolongan pertama sesuai kemampuan.

Pentingnya Memilih Kabel Listrik yang Sesuai dan Berkualitas

Kabel listrik memiliki peran penting dalam menyalurkan listrik sekaligus mendukung keselamatan instalasi. Oleh karena itu, pemilihan kabel tidak sebaiknya hanya didasarkan pada harga atau tampilan fisiknya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memilih kabel adalah ukuran penghantar yang sesuai dengan kebutuhan arus, jenis bahan penghantar, kualitas isolasi, standar yang berlaku, serta kesesuaian kabel dengan lingkungan penggunaannya. Sebagai contoh, kabel untuk instalasi di dalam bangunan belum tentu cocok digunakan untuk kebutuhan luar ruangan atau kondisi lingkungan tertentu. Setiap jenis kabel memiliki konstruksi dan karakteristik yang dirancang untuk penggunaan yang berbeda. Selain memilih kabel yang tepat, pemasangan sesuai standar dan pemeriksaan berkala juga diperlukan untuk menjaga keselamatan instalasi. Kabel berkualitas tidak dapat sepenuhnya menghilangkan risiko tersetrum apabila pemasangan, penggunaan, atau perlindungan listrik tidak dilakukan dengan benar.

Untuk memenuhi kebutuhan kabel listrik, PT Persada Permata Mandiri (PPM) sebagai mitra resmi PT Jembo Cable Company Tbk menyediakan berbagai pilihan kabel Jembo untuk kebutuhan yang beragam. Pemilihan jenis kabel dapat disesuaikan dengan spesifikasi dan peruntukan instalasi agar penggunaannya tepat.

Dengan memahami penyebab tersetrum, menerapkan kebiasaan yang aman, dan memilih kabel sesuai kebutuhan, risiko kecelakaan listrik dapat dikurangi. Keselamatan listrik dimulai dari perhatian terhadap hal-hal sederhana, termasuk kondisi kabel yang digunakan setiap hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *